Rumah Tinggal Bali

May 18th, 2008 by watchson

Rumah Tinggal Bali

By : Deka Watchson Sagala
watchsons@yahoo.com
deka152@students.itb.ac.id
http://watchson.uni.cc

Pada dasarnya hasil karya arsitektural merupakan pengembangan upaya pemenuhan kebutuhan dari sebagai tempat tinggal. Kebutuhan akan tempat tinggal memiliki arti dan makna yang sangat luas dalam perkembangan arsitektur. Perkembangan ini sudah dimulai sejak peradaban dimulai. Perkembangan dimulai sejak manusia memilih tempat seperti gua sebagai tempat tinggalnya, kemudian berkembangan dengan membangun arsitektur vernakular hingga perkembangan arsitektur modern saat ini.

Rumah tinggal sebagai tempat beraktifitas dirancang aagar seuai dengan kegiatan dan aktivitas penghuni di dalamnya. Dalam perkembangannya, manusia selalu berusaha menciptakan rumah tinggal yang sesuai dengan lingkungannya. Di sinilah dibutuhkan keseimbangan antara rumah sebagai lingkungan binaan dengan alam dan lansekap tempat hasilkarya arsitektur tersebut didirikan.

Bagi masyarakat Bali, mendirikan rumah tinggal sangat mementingkan keseimbangan dan keselarasan dengan alam. Perkembangan arsitektur ini sudah dimulai dan berkembang pesat sejak zaman para Arya dari kerajaan Majapahit berkuasa di Bali. Hingga saat ini, tradisi dan nilai nilai budaya dari arsitektur vernakular Bali ini masih dipertahankan dan banyak diterapkan dalam perkembangan arsitektur di Bali.

Di Bali, bentuk permukiman sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya dan sistem kemasyarakatan. Hal ini tercermin dalam bentuk-bentuk permukiman yang disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan kasta dalam pola kemasyarakatan di Bali. Pengelompokan tersebut sangat jelas terlihat dari segi tingkatan kasta penghuninya, kegiatan di dalamnya, luas pekaranga, susuran ruang, tipe bangunan, fungsi, bentukm dan bahan penyelesaiannya. Ditinjau dari nama, rumah tempat tinggal juga dibedakan sesuai dengan kasta pemiliknya.

a.    Geria
Rumah tempat tingal ini diperuntukkan untuk mereka yang bersal dari golongan Brahmana. Sesuai dengan kastanya gi\olongan Brahmana berperan sebagai pemimpin spiritual, maka bangaunan ini disesuakan dengan kegiatan yang mungkin dapat dilaksanakan golongan Brahmana sebagai pemimpin spiritual.
b.    Puri
Tipe rumah untuk kesatria, yang dirancang agar dapat menunjang kewibawaan penggunanya sebagai pimpinan. Tipe bangunan ini memiliki beberapa bagaian dengan fungsi tertentu juga antara lain:
•    Ancak saji, sebagia halam pertamana yang berfungsi untuk mempersiapan masuk ke dalam Puri
•    Semanggem, bagian kelod yang berfungsi untuk upacara kematian
•    Rangki, diperuntukkan untuk area tamu, pasebahan, persiapan sidang, pemeriksaan dan pengamanan
•    Pawaregan, Area dapur dan perbekalan
•    Lumbung, area penyimpanan dan pengolahan bahan perbekalan (padi dan prosesnya)
•    Saren kaja, Area yng difungsikan sebagai tempat tinggal istri-istri raja
•    Saren  kangin, tempat ini disebut juga Saren angung sebgai tempat tinggal raja
•    Paseban, bagian tengah sebgai daerah pretemuan / sidang kerajaan
•    Pemerajaan Agung, Bagian kaja angin untuk area tempat suci perhyangan
c.    Jero
Tempat tinggal untuk kasta kesatria yang tidak memegang jabatan pemerintahan secara langsung. Area dan Zoning lebih sederhana dari Puri. Zoning dirancang dengan prinsip Triangga. Pamerajaan sebagai parhyangan, jeroan sebagai area tempat tinggal, dan jambaan sebgai area pelayanan umum dan halaman depan.
d.    Umah
Rumah tinggal untuk kasta wesia yaitu mereka yang bukan berasal dari kasta Brahmana dan Kesatria. Sebagian besar dareah di sekitar pantai dan pegunungan tidak terdapat kasta brahmana dan kesatri sehingga penduduk di daerah tersebut menghuni rumah dengan tipologi umah. Keadaan umah sangat bergantung dan disesuakan dengan kondisi penghuninya. Sebagaian besar mata pencahariannya adalah petani. Di daerah yang keadaaan pertaniannya kurang baik maka umah di daerah tersebut juga dirancang sederhana.
e.    Kubu
Merupakan rumah tinggal di luar daerah permukiman, di ladang, di perkebunan,dan tempat-tempat lainnya. Biasanya rumah tinggal kubu sangat sulit untuk dijangkau, hanya dapat dijangkau melalui jalan setapak dan jalan-jalan sementara.

Arsitektur Vernakular

March 24th, 2008 by watchson

Arsitektur Tradisonal

By : Deka Watchson Sagala
watchsons@yahoo.com
deka152@students.itb.ac.id
http://watchson.uni.cc

Kebudayaan merupkan hasil dari interaksi antara manusia dan lingkungan. Hasil karya arsitektur merupakan salah satu bagian dari budaya. Kebudayaan dalam bentuk arsitektural ini sering juga disebut arsitektur vernakular. Karya arsitektur ini merupakan sebuah hasil karya yang dihasilkan dari interaksi antara manusia dan lingkungannya.

Arsitektur vernakular sebagai hasil karya dalam hal ini sangat erat hubungannya dengan kebudayaan dan lingkungan dimana bangunan arsitektural tersebut berada. Banyak hal yang telah mempengaruhi perkembangan arsitektur vernakular atau yang sering disebut juga sebagai arsitektur tradisional. Sistem kekerabatan, sistem kemasyarakatan, sistem religi (kepercayaan), mata pencaharian, seni budaya, dan hal-hal yang terlibat dalam interaksi antara manusia dan lingkungannya tersebut.

Arsitektur tradisional di Indonesia merupakan segudang contoh kasus ibarat laboratorium yang kaya dan menarik dibahas untuk menerangkan bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi hasil karya manusia dalam bentuk bangunan arsitektural. Dalam arsitektur Bali misalnya, faktor yang paling banyak mempengaruhi adalah sistem kepercayaan masyarakat Bali. Pengaruh ini sangat jelas juga terlihat dalam sistem kemasyarakatan dan kebudaayan Bali, sehingga sangat sulit bagi kita untuk memisahakan antara budaya dan kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat dan hasil karya kebudaaan di Bali.

Lain halnya dengan Arsitektur tradisional di daerah Batak, kebudayaan daerah Batak lebih banyak terinspirasi dari filosofi budaya Batak yaitu Dalihan na Tolu. Dalihan na Tolu merupakan sebuah sistem yang mengatur kehidupan masyarkat Batak dalam berinteraksi, bermasyarakat. Dalihan na Tolu secara umum menggambarkan bagaimana seseorang menempatkan diri dalam masyarakat. Hal ini diterapkan juga dalam arsitektur tradisional Batak. Misalnya saja pintu Ruma (nama rumah tradisional Batak Toba) yang dibuat sangat pendek sehingga setiap orang yang masuk harus menunduk terlebih dahulu. Hal ini berusaha menggambarkan bahwa setiap orang harus menempatkan diri dan hormat (dismbolkan dengan tunduk) kepada tuan rumah.

Tantangan saat ini adalah paraigma yang seakan-akan menyisihkan arsitektur vernacular. Anggapan bahwa Arsitektur vernacular yang sudah ketinggalan jaman, kuno dan tidak mampu bersaing dalam himpitan arsitektur minimlis saat ini sedikit-demi sedikit telah memudarkan makna sebenarnya dari arsitektur vernacular tersebut. Jika dilihat dari sisi kebudayaan yang jelas-jelas menerangkan arsritektur itu sebaga interaksi antara manusia dan lingkungannya, maka seharusnya arsitektur vernacular yang sangat kaya dan beragam di Indonesia mampu memberi peranan yang penting dan lebih luas di Indonesia.

Arsitektur vernacular merupakan karya yang telah melalu proses yang panjang dan telah berhasil memcahkan berbagai masalah di lingkungan arsitektur tersebut berada. Misalnya, Arsitektur vernacular di Indonesia secara nyata telah menyelesaikan masalah curah hujan yang tinggi di daerah tropis di Indonesia dengan atap miring pada bangunannya. Seharusnya tak perlu dipertanyakan lagi, bahwa atap miring merupakan sebuah hasil dari interaksi antara bangunan dan curah hujan di daerah tropis, dan hasil dari interaksi tersebut adlah bentuk bangunan dengan atap miring. Namun kenyataan di lapangan, tidak jarang kita menemui arsitek yang lebih sering menerapkan atap datar pada desain bangunannya di Indonesia.

Memang penerapan dan perkembangan teknologi yang sangat pesat sangat mendukung perkembangan arsitektur di Indonesia. Konstruksi beton, mampu diterapkan dalam pembuatan ekspresi bangunan dengan atap datar. Dalam hal ini arsitek yang merancang atap datar di Indonesia tak dapat disalahkan, sebab mereka hanyalah sebagaian dari sekian banyak arsitek yang menggunakan kemudahan dan perkembangan teknologi dalam desain arsitekturnya. Permasalahannya adalah bagaimana ketika arsitektur dengan teknologi tesebut tidak sepenuhnya dapat memecahkan masalah, bahkan mendatangkan masalah baru? Tidak jarang kita mendengar atap datar yang bocor.

Lalu bagaimana seorang arsitek menyikapi masalah seperti ini? Konstruksi dan teknologi yang lebih baik adalah solusinya. Namun di sisi lain, arsitektur vernacular adalah salah satu solusi yang telah teruji. Arsitektur tradisional tidak harus diterapkan secara utuh dalam disain arsitektur saat ini, namun hal yang harus diperhatikan adalah niali-niali yang terkandung dalam arsitektur vernacular tersebut. Contoh di atas (arsitektur di daerah tropis) adalah hanya sebagaian kecil dari seian banyak pesan yang dapat kita pelajari dari arsitektur vernacular. Masih banyak lagi yang dapat kita pelajari dari sekian banyak keragaman dan kekayaan budaya Indonesia.

Terima kasih…

Sepak Bola Indonesia

March 21st, 2008 by watchson

Bandung, 22 Maret 2008
by: Deka Watchson Sagala

Masih jelas di ingatan kita, ketika semangat dan dukungan warga Indonesia buat tim Merah Putih yang berlaga di ajang piala Asia 2007 lalu. Semua warga Indonesia dengan antusias dan optimis yang tinggi tetap mendukung tim Merah Putih.

Sejak itu besar harapan bangsa ini akan peningkatan dunia persepakboalaan indonesia. meskipun tidak lolos dari babak penyisihan Group, namun acungan jempol diberikan untuk tim merah putiih yang berlaga dengan semangat pantang menyerah dan semangat nasionalisme yang tinggi. Tidak sedikit yang beranggapan, momen tersebut adalah titik balik kejayaan sepak bola di negeri ini.

Namun beberaa bulan setelah itu, ternyata tak semudah dan tak seindah yang dibayangkan. Tim kesebelasan merah Putih kebanggaan bangsa ini seakan malu dan ragu untuk berkompetisi. Kenapa tidak… Praktis tak ada prestasi yang bisa dibanggakan setelah Piala Asia, baik prestasi dalam negeri, regional Asia Tenggara, apalagi prestasi yang men-dunia.

Mencoba menilik lagi apa sebenarnya yang terjadi dalam tubuh persepakbolaan Indonesia di bawah bendera PSSI. PSSI adalah lembaga yang perlu dipertanyakan keadaan dan kemerosotan prestasi bangsa ini.
Kenapa tidak? Ketua PSSI sendiri hanya dapat memimpin di balik jeruji. Hasilnya sudah jelas,
1. Prestasi sepak bola Indonesia sangat tidak dapat dibanggakan
2. Jadwal Liga Indonesia yang molor
3. Indonesia tak bisa mencalonkan club untuk berlaga di Champion Asia
4. Rusaknya iklim kompetisi di Indonesia
6. Final Liga Indonesia tanpa penonton
5. liga Indonesia yang tak aman, kerusuhan, bentrok, pengerusakan, hingga tewasnya supporter club domestik.
6. Teguran dari atas PSSI dari FIFA
7. Kemungkinan Indonesia keluar dari keanggotaan FIFA jika tidak menyelesaikan masalah internal PSSI
8. Pemain asing yang bermasalah
9. Sistem Liga Super yang belum pasti

Masih banyak kegagalan dan hasil yang mengiris hati pecinta sepak bola Indonesia.
Segudang pekerjaan yang harus dibenahi dalam peningkatan persepakbolaan Indonesia. Namun hal ini terbentur lagi dengan kondisi PSSI yang sangat memprihatinkan saat ini. Bagaimana bisa PSSI mengerjakan semua tugas ini dengan optimal jika motor penggeraknya memimpin dari balik jeruji? Hal ini semakin menimbulkan tanda tanya besar bagi sebagian pecinta sepak bola tanah air. Sebenarnya apa yang diperebutkan dan apa yang berusaha dipertahankan sebagai ketua dan pemilik kursi kepemimpinan di PSSI?

Kita butuh sebuah perubahan…